Selasa, 31 Mei 2011

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

A. PENDAHULUAN

Jajaran pengelola pendidikan, baik instansi yang membawahi sekolah, sekolah maupun guru sebagai pelaksana lapangan pendidikan, diharapkan mampu mewujudkan tujuan minimal standar pendidikan nasional yaitu membentuk manusia berkualitas yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Guru, secara fungsional memegang peranan sangat menentukan dalam keberhasilan pembelajaran siswa. Tugas guru mencakup banyak aspek, merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, membimbing siswa, mengevaluasi proses dan hasil belajar. Tak kalah penting, meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran tersebut.

Permasalahan yang berkenaan dengan siswa di kelas, jika tidak dicari solusi dan dibiarkan berlalu begitu saja, akan lebih kompleks dan berlarut-larut. Akibatnya, akan dirasakan pada ketidak-kompetenan siswa di masyarakat yang berhubungan dengan materi pelajaran. Contoh, dalam pembelajaran IPA di SMP tentang materi bahan kimia rumah tangga, siswa belum tuntas kemungkinan akan menerapkan kompetensi yang salah. Misalnya, siswa di rumah mencampurkan bahan pemutih pakaian dan detergen. Padahal, salah satu tujuan dari pembelajaran materi itu menyebutkan bahayanya bahan kimia rumah tangga, antara lain siswa memahami, bahan pemutih tidak boleh dicampur dengan detergen karena akan timbul gas klorin yang berbahaya bila terhirup.

Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan memberikan kesempatan kepada guru untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan non pembelajaran secara profesional dan kolaboratif lewat penelitian tindakan kelas. Upaya meningkatkan kompetensi guru untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran akan berdampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan masalah pembelajaran akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi, masukan, proses, sarana/prasarana, dan hasil belajar. Dan Ketiga, peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara pada peningkatan kualitas lulusan.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (kolaborator dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.

B. APAKAH PTK ITU?

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.

PTK memiliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :

  • Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.
  • Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.
  • Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digeneralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.
  • Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekaligus yang diteliti pula.
  • Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.
  • Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
  • Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.
  • Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
  • Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.
  • Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Tujuan PTK sebagai berikut :

  • Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
  • Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
  • Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.
  • Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
  • Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
  • Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
  • Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.

Manfaat PTK sebagai berikut:

  • Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  • Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.
  • Mampu mewujudkan kerja sama, kolaborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  • Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
  • Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat ditingkatkan.
  • Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

C. DIAGNOSIS DAN PENETAPAN MASALAH

Masalah PTK hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh seseorang lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh guru dengan kolaborator. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan kolaborator. Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama kolaborator. Dalam hal ini kolaborator perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. Setelah pembelajaran berakhir kolaborator dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan kolaborator. Kolaborator baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya.

Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan kolaborator harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu, misalnya 2 minggu atau satu bulan, rumusan masalahnya, atau hipotesis tindakannya, atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. Dalam kegiatan di kelas, guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas, proses belajar-mengajar, pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar, maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional.

PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar, 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar, 2) mengembangkan kurikulum, 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan 4) memperbaiki metode evaluasi. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga, 2) sumber-sumber lingkungan, dan 3) peralatan tertentu. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa, guru, dan orang tua, 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar, 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Jadi, masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”, dapat “ditindaki”, dan “ditindaklanjuti”.

Dari sekian banyak kemungkinan masalah, guru bersama kolaborator perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan bersama itu. Penetapan masalah hendaknya dilakukan bersama oleh kolaborator dan guru setelah menganalisis seluruh pilihan masalah, minat, dan keinginan guru serta kolaborator (bersama) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya. Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan bersama antara guru dan kolaborator dapat berupa rumusan sebagai berikut: Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan mampu belajar?

Masalah-masalah lain yang mungkin dihadapi guru dapat berupa:

  • Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar? yang “ideal” itu dapat meningkatkan antusiasme siswa sehingga mereka sepertinya “tidak sabar” menunggu-nunggu datangnya jam pelajaran yang dibina oleh guru tersebut;
  • Bagaimana mengajak siswa agar di kelas mereka benar-benar aktif belajar (aktif secara mental maupun fisik, aktif berpikir)?
  • Bagaimana menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari agar mereka dapat menggunakan pengetahuan dan pemahamannya mengenai materi itu dalam kehidupan sehari-hari dan tertarik untuk mempelajarinya karena mengetahui manfaatnya?
  • Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk membelajarkan materi?
  • Bagaimana melaksanakan pembelajaran kooperatif?.

Guru diharapkan memfokuskan penelitian dengan jelas setelah melakukan refleksi mengenai apa yang terjadi yang memunculkan masalah dan apa isu serta peristiwa yang terkait dengan masalah. Isu atau masalah itu harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dapat diteliti dan diidentifikasi tujuan meneliti masalah tersebut.
Isu atau topik yang ingin diteliti: Definisikan apa isu atau peristiwa yang menimbulkan permasalahan.


D. PROSEDUR PELAKSANAAN PTK

Menyusun proposal PTK

Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.

Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas

Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.

Analisis data

Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.

Menulis laporan PTK,

Menulis laporan PTK dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis.

E. PENUTUP

Stagnasi atau kemandekan kualitas hasil pembelajaran tidak perlu terjadi, bila semua guru mampu mengevaluasi apa yang menjadi inti permasalahan di kelas. Tentu saja diperlukan itikad baik dan kemauan besar dari guru. Sehingga akhirnya diperoleh jawaban, permasalahan timbul dari diri siswa atau kualifikasi guru dalam mengelola kelas yang harus dievaluasi.

Uraian singkat pada makalah ini merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan guru dengan cara mengimplementasikan pengetahuan dan kemampuannya untuk mencari jawaban masalah penelitiannya.

Akhir kata, saya ingatkan kembali bahwa profesi guru adalah profesi yang memerlukan pengembangan terus-menerus, karenanya setiap guru harus selalu siap, mau, dan mampu untuk membelajarkan dirinya sepanjang hayat agar dapat lebih mampu membelajarkan anak didiknya. PTK merupakan salah satu sarana belajar sepanjang hayat yang penting yang perlu dikuasai oleh setiap guru yang mau mengembangkan keprofesionalannya.

F. DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Ketenagaan. 2006. Pelatihan Metodologi PPKP dan PTK. Dikti.

Herawati Susilo dan Kisyani Laksono. 2006. Implementasi Penelitian Tindakan Kelas. www.ekofeum.or.id. (diakses tanggal 14 Nopember 2006).

Rustam dan Mundilarto. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Dikti.

Selasa, 24 Mei 2011

MENULIS PROPOSAL PENELITIAN

Proposal penelitian memegang peranan penting dalam rangka pengembangan ilmu dan pemecahan masalah. Proposal penelitian ditulis untuk kepentingan penyelesaian skripsi, tesis atau disertasi mapun untuk sebuah proyek, perlu mendapatkan persetujuan dari pembimbing, suatu badan, lembaga atau panitia. Sebuah proposal penelitian mencakup dua bagian pokok, yaitu bagian pendahuluan dan bagian metode penelitian.

Bagian pendahuluan memuat hal-hal sebagai berikut:

  1. Latar belakang masalah
  2. Rumusan masalah
  3. Tujuan penelitian
  4. Manfaat penelitian
  5. Kajian teori
  6. Hipotesis (bila diperlukan)

Bagian metode memuat hal-hal sebagai berikut:

  1. Rancangan penelitian
  2. Tempat dan waktu penelitian
  3. Populasi dan sampel atau subjek penelitian
  4. Prosedur penelitian
  5. Instrumen penelitian
  6. Metode pengumpulan data
  7. Metode analisis data

Pada bagian akhir proposal disertakan daftar pustaka.

Berikut penjelasan masing-masing langkah menyusun proposal penelitian.

JUDUL PENELITIAN

Ungkapkan secara ringkas, jelas yang mengungkapkan faktor-faktor atau variabel-variabel penelitian yang menjadi perhatian peneliti. Judul penelitian tidak terlalu panjang, kira-kira terdiri atas 8 – 15 kata. Adakalanya peneliti menambahkan dalam judul penelitiannya, yaitu lokasi penelitian. Peneliti beralasan karena lokasi penelitian penting ditambahkan untuk memperjelas di mana penelitian dilakukan.

LATAR BELAKANG MASALAH

Kemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoretik atau pun kesenjangan praktis yang melatarbelakangi masalah yang akan diteliti. Dalam latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas teori atau hasil-hasil penelitian terdahulu atau berdasarkan pengalaman/pengamatan pribadi yang terkait erat dengan pokok masalah yang diteliti. Kemukakan teori-teori yang relevan sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Teori-teori yang digunakan sebagai landasan bukan sekedar pendapat dari pengarang, tetapi teori yang benar-benar sudah teruji kebenarannya. Karena itu pada bagian ini juga diperlukan dukungan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan. Dengan demikian masalah yang dipilih untuk diteliti mendapat landasan berpijak yang lebih kokoh. Pada bagian ini Anda harus menuliskan mengapa hal itu penting untuk diteliti.

RUMUSAN MASALAH

Peneliti mengangkat masalah berdasarkan analisis atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kemudian merumuskannya dalam ungkapan pertanyaan, dan/ atau kalimat pernyataan. Rumusan masalah diangkat atau dijabarkan berdasarkan variabel yang telah diidentifikasi oleh peneliti.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu ke-pada isi dan rumusan masalah penelitian. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Masalah penelitian dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya, sedangkan rumusan tujuan penelitian dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Tujuan penelitian ini nanti jawabannya terletak pada kesimpulan penelitian.

MANFAAT PENELITIAN

Pada bagian ini dikemukakan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain kegunaan penelitian berisi tentang alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.

Manfaat/kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Jika tujuan penelitian dapat tercapai, dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat, maka kegunaan/manfaatnya apa. Dengan demikian kegunaan penelitian ada dua hal yaitu: (1) kegunaan untuk mengembangkan ilmu/kegunaan teoritis, dan (2) kegunaan yaitu membantu memecahkan masalah yang diteliti.

KAJIAN TEORI

Kajian teori ini memuat bahasan yang berkenaan langsung dengan variabel penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kajian teori adalah:

Ø Mengkaji teori-teori yang berhubungan dengan variabel penelitian

Ø Membahas hasil penelitian yang relevan dengan variabel penelitian

Ø Sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan

Ø Sebagai dasar untuk mendapatkan jawaban yang dapat diandalkan

Ø Sebagai alat untuk membantu memecahkan masalah

Supaya kerangka teori yang disusun dapat meyakinkan pembaca, maka :

Harus lengkap

Mencakup perkembangan-perkembangan terbaru

Berasal dari beberapa pendekatan atau aliran

Didasarkan pada argumentasi yang meyakinkan

Tidak hanya berasal dari pengetahuan teknis

Berasal dari pengetahuan filosofis yang melandasi teori tersebut

HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis diperoleh berdasar pada kesimpulan pemikiran deduksi dari argumentasi ilmiah terhadap variabel-variabel penelitian yang dipermasalahkan. Hipotesis tidak boleh diajukan sembarang, namun harus dikembangkan dari kerangka fikir (klimaks dari kerangka berfikir). Hipotesis dirumuskan dengan kalimat pernyataan, dan hipotesis yang dirumuskan adalah hipotesis penelitian atau biasa disebut H1.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian mengemukakan gambaran umum cara dan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pengamatan dan pengukuran agar diperoleh data dengan kesalahan minimal. Pada rancangan penelitian berisi juga uraian tentang metode pelaksanaan penelitian dan rancangan pelaksanaannya.

Tempat dan Waktu Penelitian

Pada bagian ini perlu ditegaskan di mana penelitian itu dilaksanakan dan kapan dilaksanakan. Penentuan tempat penelitian harus disertai dengan alasan-alasan tertentu mengapa memilih tempat itu. Waktu penelitian harus dirinci secara kronologis, sehingga menggambarkan bagaimana proses penelitian itu dilaksanakan dan memakan waktu berapa lama dilakukan oleh siapa.

Populasi dan Sampel atau Subjek Penelitian

Di bagian ini ditegaskan populasi penelitian yang akan dikenai generalisasi. Karena alasan-alasan tertentu tidak mungkin peneliti meneliti secara keseluruhan populasi, tetapi hanya menggunakan sebagian dari populasi (sampel). Besarnya sampel harus mengacu pada pendapat pakar tertentu sehingga diperoleh jumlah sampel yang representatif. Setelah ditetapkan besarnya sampel langkah selanjutnya perlu diuraikan bagaimana cara mengambil sampel (sampling).

Jika penelitian tindakan kelas, pada bagian ini dijelaskan subjek penelitiannya siapa.

Prosedur Penelitian

Pada bagian ini jelaskna bagaimana langkah-langkah penelitian yang dilakukan, termasuk jadwal pelaksanaan kegiatan.

Instrumen Penelitian

Pada bagian ini jelaskan instrumen apa saja yang digunakan dalam penelitian. Instrumen atau alat mengambil data tersebut dapat berupa: (a) tes : inteligensi, prestasi, bakat, minat, dsb. (b) angket (Kuisener): sikap, kebiasaan, kecemasan, motivasi, dsb. (c) observasi : perilaku manusia, proses, dsb. Menggunakan Check List ( Ö ). (d) wawancara : hal-hal yang lebih mendalam dari responden. (e) dokumentasi :

Metode Pengumpulan Data

Pada bagian ini peneliti harus menyatakan :

  • Variabel yang diteliti
  • Sumber data
  • Teknik pengukurannya
  • Instrumen pengukuran
  • Teknik mendapatkan data

Metode Analisis Data

Pada bagian ini peneliti harus menjelaskan :

  • Langkah-langkah analisis
  • Jenis analisis yang digunakan: korelasional, komparatif, deskriptif, dll.
  • Perlu ditegaskan pula apakah analisis data secara statistik dilakukan secara manual atau menggunakan komputer program tertentu (Excel, SPSS, Lisrel, dsb.)

Rabu, 27 April 2011

Tugas Perorangan

Kerjakan soal-soal di bawah ini secara perorangan, kumpulkan lewat email : tugaskuliah.nuroso18@gmail.com sebelum tanggal 2 Mei 2011

1. Dalam suatu penelitian, seorang peneliti ingin meneliti seluruh partisipan yang ada.
  • Apa istilah yang cocok untuk penelitian semacam ini. Jelaskan!
  • Coba Anda kemukakan alasan-alasan Anda sebagai seorang peneliti, mengapa penelitian tersebut melibatkan seluruh partisipan.
2. Jelaskan pengertian istilah-istilah di bawah ini.
  • a. sampel acak atau random
  • b. sampel subjektif atau bias
  • c. sampel kelompok atau rumpun
  • d. sampel kuota
  • e. sampel sistemik
  • f. sampel strata atau berjenjang.
3. Seorang peneliti ingin meneliti pendapat siswa kelas IX SMP X tentang pelaksanaan Ujian Nasional. Kelas IX SMP X terdapat 250 siswa yang tersebar dalam 5 kelas. Coba Anda tentukan calon responden dari kelas IX tersebut dan alasan anda menentukan cara tersebut.

Selasa, 19 April 2011

METODE PENGUMPULAN DATA

Kualitas data sangat ditentukan atau tergantung pada kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. Apabila alatnya reliabel dan valid, maka data yang diambil (dikumpulkan) juga akan reliabel dan valid. Walaupun demikian, ada hal yang masih perlu kita pertimbangkan, yaitu prosedur pengambilan data. Pengambil data dalam penelitian juga sangat besar peranannya. Tes psikologis, misalnya, tidak bisa dipercayakan begitu saja kepada orang yang kurang kompeten di bidang itu, penggunaan alat laboratorium tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki lansasan atau dasar-dasar praktik laboratorium. Pewawancara tidak akan bisa dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki keterampilan dan kemahiran berwawancara dan sebagainya.

Prosedur pengumpulan data ini menuturkan bagaimana data penelitian itu diperoleh. Apabila data diperoleh dengan tes, bagaimana caranya, kapan waktunya, berapa lama tes itu diberikan, siapa saja yang terlibat, dan sebagainya. Apabila data itu dikumpulkan dengan kuesioner, bagaimana caranya kuesioner itu diberikan, siapa yang melakukan, disertai teknik apa saja, dan lain sebagainya.

Terdapat empat jenis metode pengumpulan data yaitu:



KUESIONER
Data yang diungkap dalam penelitian dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: fakta, pendapat, dan kemampuan. Untuk mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti, digunakan tes. Perlu kita pahami bahwa yang dapat dikenai tes bukan hanya manusia. Mesin mobil jika akan diketahui masih baik atau tidak, data kemampuannya seberapa, juga dites dengan alat tertentu. Untuk manusia, instrumen yang berupa tes ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi.


Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data. Memang kuesioner baik, asal cara dan pengadaannya mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian. Sebelum kuesioner disusun, maka harus dilalui prosedur.

1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.

2. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.

3. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih spesifik dan tunggal.

4. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan teknik analisisnya.


Penentuan sampel sebagai responden kuesioner perlu mendapat perhatian pula. Apabila salah menentukan sampel, informasi yang kita butuhkan barangkali tidak kita peroleh secara maksimal. Kita ambil contoh, kita ingin mengetahui daya tarik orang terhadap kuesioner. Maka kita mengirimkan ribuan kuesioner kepada responden secara acak melalui buku telepon dan meminta mereka untuk mengembalikan lewat pos berlangganan, jadi responden tidak perlu membeli perangko. Hasilnya dapat ditebak, yaitu bahwa semua responden akan suka dengan kuesioner. Mengapa? Tentu saja, responden yang tidak suka dengan kuesioner akan membuang kuesioner ke tempat sampah atau dijadikan bungkus kacang.


Angket anonim memang ada kebaikannya karena responden bebas mengemukakan pendapat. Akan tetapi penggunaan angket anonim mempunyai beberapa kelemahan pula.

1. Sukar ditelusuri apabila ada kekurangan pengisian yang disebabkan karena responden kurang memahami maksud item.

2. Tidak mungkin mengadakan analisis lebih lanjut apabila peneliti ingin memecah kelompok berdasarkan karakteristik yang diperlukan.


Berbagai penelitian memberikan gambaran hasil bahwa tidak ada perbedaan ketelitian jawaban yang diberikan oleh orang dewasa, baik yang anonim maupun yang bernama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perlu tidaknya angket diberi nama adalah:
1. Tingkat kematangan responden.
2. Tingkat subjektivitas item yang menyebabkan responden enggan memberikan jawaban (misalnya gaji untuk pria dan umur untuk wanita).
3. Kemungkinan tentang banyaknya angket.
4. Prosedur (teknik) yang akan diambil pada waktu menganalisis data.


Salah satu kelemahan metode angket adalah bahwa angketnya sukar kembali. Apabila demikian keadaannya maka peneliti sebaiknya mengirim surat kepada responden yang isinya seolah-olah yakin bahwa sebenarnya angketnya akan diisi tetapi belum mempunyai waktu. Surat yang dikirim itu hanya sekadar mengingatkan.



WAWANCARA
Di samping memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data, dengan metode interview peneliti harus memikirkan tentang pelaksanaannya. Memberikan angket kepada responden dan menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan mengorek jawaban responden dengan bertatap muka.


Sikap pada waktu datang, sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan, kesabaran serta keseluruhan penampilan, akan sangat berpengaruh terhadap isi jawaban responden yang diterima oleh peneliti. Oleh sebab itu, maka perlu adanya latihan yang intensif bagi calon interviewer (penginterviu).

1. Agar tidak ada pokok-pokok yang tertinggi.

2. Agar pencatatannya lebih cepat.


Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara :

1. Pedoman wawasan tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Tentu saja kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah sebagai pengemudi jawaban responden. Jenis interviu ini cocok untuk penilaian khusus.

2. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda √ (check) pada nomor yang sesuai.


Pedoman wawancara yang banyak digunakan adalah bentuk “semi structured”. Dalam hal ini maka mula-mula interviewer menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.


Sebagai contoh misalnya kita akan menyelidiki pengetahuan dan pendapat mahasiswa tentang perguruan tinggi di mana mereka kuliah. Pertama-tama mereka kita tanya tentang tahun berapa masuk, sekarang di tingkat berapa, mengambil mata kuliah apa saja, ekstra kurikuler apa yang diikuti dan sebagainya, kemudian diikuti dengan pertanyaan, antara lain sebagai berikut :

- Pada tahun Saudara masuk, jurusan apa saja yang ada?
- Apakah Saudara lancar menaiki jenjang dari tahun ke tahun?
- Bagaimana sistem penentuan tingkat/sistem kenaikan tingkat?
- Apakah program studi yang diberikan cocok dengan keperluan Saudara jika sudah lulus?


OBSERVASI
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Dari peneliti berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekadar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi itu, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai, reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki.


Sebagai contoh dapat dikemukakan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui proses belajar-mengajar di kelas. Variabel yang akan diungkap didaftar, kemudian di tally kemunculannya, dan jika perlu kualitas kejadian itu dijabarkan lebih lanjut.



DOKUMENTASI
Tidak kalah penting dari metode-metode lain, adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati.


Dalam menggunakan metode dokumentasi ini peneliti memegang check-list untuk mencari variabel yang sudah ditentukan. Apabila terdapat/muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan tanda check atau tally di tempat yang sesuai. Untuk mencatat hal-hal yang bersifat bebas atau belum ditentukan dalam daftar variabel peneliti dapat menggunakan kalimat bebas.